Maulid Nabi Dalam Timbangan Islam

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin wabihii nasta’iin ‘alaa umuurid dunya wad diin. Amma ba’du ; Saudaraku yang saya cintai, pada hari ini kita telah memasuki tanggal 1 bulan Rabiul Awal 1439 H. Dimana pada bulan ini (Rabiul Awwal/Maulud) ada satu peristiwa yang bersejarah yaitu lahirnya manusia paling mulia, penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Di bulan ini pula ada satu amalan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam dalam rangka memperingati hari lahir (Maulid) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu perayaan Maulid Nabi. Mereka yang merayakan Maulid Nabi ini beranggapan bahwa perayaan Maulid merupakan bentuk cinta kepada Nabi. Mereka beranggapan bahwa dengan merayakan Maulid Nabi, maka mereka telah merealisasikan wujud nyata cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan sebagian mereka ada yang menganggap bahwa orang yang tidak merayakan Maulid Nabi berarti tidak cinta kepada Nabi, wal’iyaadzubillah. Sehingga mereka berupaya dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu dan pikiran untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi.

Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah benarkah klaim mereka bahwa merayakan Maulid Nabi adalah realisasi nyata cinta Nabi? Apakah perayaan Maulid Nabi juga dilakukan oleh para Salafus Shaleh dari kalangan Sahabat Nabi? Karena kita yakin bahwa para sahabat adalah orang-orang yang Allah ta’ala pilih untuk menemani Nabi-Nya dan mereka, para sahabat Nabi, adalah orang-orang yang paling cinta kepada Nabi. Jika para sahabat Nabi tidak merayakan Maulid Nabi, lalu dari mana ajaran Maulid Nabi ini? Benarkah bahwa perayaan Maulid Nabi itu bid’ah? Siapa yang bilang Maulid Nabi bid’ah? Berikut saya bawakan fatwa dan tulisan para ulama ahlus sunnah tentang Maulid Nabi. Semoga bermanfaat.

 

A. Fatwa Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid hafizhahullah

Syaikh Muhammadn Shalih al Munajjid hafizhahullah pernah ditanya oleh seorang wanita Nashrani.[1]

Pertanyaan :

Apa kedudukan hari kelahiran Nabi (shallallahu alaihi wa sallam), kapan dan bagaimana hari ini dirayakan?

Jawab :

Berkata Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid hafizhahullah ;

Alhamdulillah.

Pertama.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah utusan Allah untuk seluruh manusia yang menyelamatkan mereka dari kegelapan menuju terang cahaya dan menuntun mereka dari kesesatan kepada hidayah dan petunjuk. Silakan merujuk ke soal no. 11575. Pertanyaan ini semoga dapat menjadi awal dari sebuah pencarian lebih dalam tentang agama Islam dan berupaya mengetahuinya serta membaca sumber-sumbernya yang sangat banyak. Bersungguh-sungguhlah dalam mengkaji terjemah Al-Quran sehingga anda dapat mengetahui lebih banyak lagi tentang agama yang lurus ini. Kegembiraan kami pasti akan berlipat-lipat jika anda menjadi saudara kami dalam Islam dengan memeluk agama ini.

Kedua.

Ibadah dalam Islam dibangun di atas prinsip yang agung, yaitu bahwa tidak boleh seorang pun beribadah kepada Allah kecuali berdasarkan apa yang Allah Ta’ala syariatkan dalam Kitabnya dan apa yang diajarkan Nabi dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Siapa yang beribadah dengan sesuatu yang tidak diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka Allah Azza wa Jalla tidak akan menerimanya sedikitpun. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita, dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami yang tidak bersumber darinya, maka dia tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2499)

Di antara ibadah adalah hari-hari raya. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mentapkan untuk kita dua hari raya, maka tidak boleh berhari raya selain pada keduanya. Silakan kembali dicek jawaban pada soal no. 486.

Adapun merayakan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, semestinya diketahui bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan kepada kita untuk merayakan hari tersebut. Beliaupun tidak pernah merayakannya pada hari tersebut. Begitu pula para shahabat radhiallahu anhum, walaupun mereka adalah orang yang lebih mencintai Nabi shallallahu alaihi wa sallam dibanding kita, namun mereka juga tidak merayakan hari itu. Karena itu, kita tidak merayakan hari tersebut untuk mengikuti perintah Allah Azza wa Jalla yang telah memerintahkan kita untuk mentaati perintah Nabinya dalam firman-Nya

.وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا (سورة الحشر: 7)

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

علَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَة (رواه أبو داود،  السنة/3991، وصححه الألباني في صحيح أبي داود، رقم 3851) .

“Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidin yang mendapat petunjuk. Genggamlah kuat-kuat dan gigitlah dengan geraham. Hendaklah kalian menjadu perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Abu Daud, As-Sunnah, no. 3991, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud, no. 3851)

Indikasi yang dapat menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah mengikutinya dalam semua perintah dan larangannya. Di antaranya adalah mengikutinya dalam hal perayaan hari kelahirannya (yaitu dengan tidak merayakannya).

Perhatikan jawaban pada soal no. 5219 dan 10070.

Siapa yang ingin mengagungkan hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam, hendaklah dia mencari alternatif yang syar’i, yaitu puasa hari Senin dan Kamis. Bukan khusus pada hari (tanggal) kelahirannya saja, tapi pada setiap hari Senin.

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Senin? Beliau menjawab, ‘Pada hari itu aku dilahirkan, dan pada hari itu diturunkan kepadaku (Al-Quran).’ (HR. Muslim, no. 1987).

Sedangkan pada hari Kamis, amal diangkat (dilaporkan) kepada Allah.

Kesimpulan: Merayakan hari kelahiran (maulid) Nabi tidak disyariatkan Allah Azza wa Jalla tidak disyariatkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Karena itu, tidak dibenarkan kaum muslimin merayakan hari kelahirannya sebagai pelaksanaan atas perintah Allah Ta’ala dan perintah Nabi-Nya alaihishshalatu wassalam.

Kami mohon kepada Allah, semoga anda mendapatkan hidayah di jalan yang lurus.

Wallahu A’lam.

 

B. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafizhahullah [2]

Soal :

Apakah merayakan maulid Nabi termasuk masalah khilafiyah (yang diperselisihkan) di antara para ulama?

Jawab :

Tidak ada dalil yang menyatakan boleh merayakan kelahiran Nabi –shallallahu’alaihi wa sallam– . Karena selama tiga abad pertama hijriyah (masa keemasan Islam) tidak ditemukan perayaan ini. Perayaan ini muncul setelah masa itu. Maka ini menunjukkan perayaan ini termasuk perkara baru dalam Islam. Tidak ada sahabat, tabi’in, tabiuttabi’in yang merayakannya. Ini bukti bahwa perkara ini adalah perkara yang baru dalam agama. Seandainya boleh tentu sudah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, para Khulafaur rasyidin, sahabat, tabi’in dan tabiuttabi’in. Akan tetapi hal ini tidak didapati pada masa tiga generasi pertama. Ini perkara baru.

Barangkali ada yang beralasan dengan perbuatan orang-orang Nasrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa dan kaum muslimin tentu lebih berhak untuk merayakannya, ini dalil tidak benar. Yang diperbincangkan adalah selama tiga generasi pertama Islam, tidak didapati perayaan maulid Nabi. Ini menunjukkan bahwa hal ini menyelisihi prinsip mereka yang hidup di tiga abad pertama masa keemasan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

خير النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya (tabiu’t tabi’in)” (HR. Bukhari & Muslim).

Tidak semua perbedaan pendapat para ulama itu bisa diambil (khilaf mu’tabar), dan tidak setiap pendapat memiliki dalil yang kuat. Mereka yang membolehkan perayaan maulid Nabi berdalil dengan perbuatan kaum Nasrani. Mereka menyatakan bahwa kaum Nashrani merayakan kelahiran Nabi Isa karena mereka cinta, mengapa kita tidak merayakan kelahiran Nabi kita karena cinta kepada beliau? Namun nyatanya para khulafaur rasyidin tidak merayakan, para sahabat tidak merayakan, para tabi’in dan tabiut tabi’in juga tidak merayakan. Maka ini adalah termasuk perkara baru dalam agama, yang tidak ditemui di tiga generasi pertama. Perayaan ini baru muncul pada abad ke 4 hijriyah.

(Selesai, terhenti oleh iqomah sholat Isya).

Fatwa ini beliau sampaikan pada sesi tanya jawab kajian Shahih Bukhori, pada 10 Rabiulawwal 1438 H, di masjid Nabawi.

Anda bisa menyimaknya di sini :
https://drive.google.com/file/d/0Bx_gQF8gz7hoWHEzQld6S0xKMlk/view?usp=docslist_api

****

Direkam dan diterjemahkan oleh : Ahmad Anshori

Sumber : Muslim.or.id

 

Saudaraku yang saya muliakan, demikianlah penjelasan para ulama ahlus sunnah tentang perayaan Maulid Nabi. Masih banyak keterangan para ulama tentang masalah ini, namun saya mencukupkan untuk menyajikan kedua fatwa tersebut. Dengan demikian kita meyakini bahwa Maulid Nabi yang dirayakan oleh sebagian kaum Muslimin bukanlah perkara yang disyariatkan dalam agama Islam. Dan bukan pula sebagai bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, ketika ditanya siapa bilang Maulid Nabi bid’ah? Maka dengan mantab kita katakan bahwa yang mengatakan Maulid Nabi itu bid’ah (tidak disyariatkan) adalah Allah ta’ala dan Rasul-Nya serta para Salafus Shaleh. Karena Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan untuk merayakan Maulid Nabi. Begitu juga para Salafus Shaleh tidak pernah mengamalkannya. Wallahu a’lam bis shawab

Dipublish ulang oleh Amin Tour dari Artikel : www.riyadhul-jannah.net

Catatan Kaki :

[1] https://islamqa.info/id/13810

[2] https://muslim.or.id/29081-fatwa-ulama-perayaan-maulid-nabi-adalah-masalah-khilafiyah.html

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: